Arisan Bulan Nopember 2008

Keluarga Bpk. Kuswantoro

Untuk Arisan pada bulan Nopember ini sesuai ketetapan yang telah di tentukan pada acara arisan di Sarangan sekaligus Halal Bi Halal yaitu SBB :

MADIUN, Nopember 2008

K E P A D A :

Yth : Bpk dan Ibu Kel.Besar

Si Mbah Kromoreso

Di MADIUN

Assalamu’alaikum Wr.wb.

Dengan mengucap puji syukur kehadirat Allah s.w.t. Kami mengharap atas kehadiran Bpk/Ibu/sdr. Besok pada :

Hari : Minggu

Tanggal : 30 Nopember 2008

Waktu / Jam : 09.30 wib.

Tempat : Bpk. Kuswantoro

Alamat : Jl. Sarana Mulya Gg. Buntu

Acara : Arisan Rutin

Demikian atas perhatian dan kehadirannya kami ucapkan banyak terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr.wb.

Hormat kami

Ketua

ARIS PRASETYO

Berita Duka

Telah meninggal dunia pada hari Jum’at dini hari, tepatnya pkl. 02.15 tgl. 17 Oktober 2008 Mbah Sukatmi ( Ibunda Bpk. Mono ) Sembungan rejomulyo Madiun, Jenazah dimakamkan pukul 09. 15 wib, Semoga arwah belia diterima disisi Allah SWT. dan diampuni segala dosa-dosanya. Amiin ya Robbal ‘alamin. Klik foto untuk lihat fotot-foto pemakaman yang lain.

Halal Bi Halal 1429 H / 2008 di Sarangan

Pada tgl 25 Oktober 2008 tepatnya jam 19.00 Wib ( 7 malam ), Keluarga besar Si Mbah kromoreso mengadakan Halal bi Halal yang diselenggarakan di sarangan. Alhamdulillah acara berjalan lancar dan hampir sebagian besar Kel bisa hadir. Ini berkat dukungan dari semua fihak khususnya kel. Ibu Heny yang suaminya juga menjabat jadi DANRAMIL Plaosan yg telah mengusahakan penginapan dan hidangan serta fasilitas pendukung lainnya termasuk artis, untuk itu atas bantuannya, pihak pengurus arisan menghaturkan banyak terima kasih, semoga keikhlasan dari beliau mendapat balasan yang berlimpah rezki dari ALLAH SWT. Amiin. Untuk melihat gambar kegiatan arisan / Halal bi halal klik disini

Arisan Bulan Oktober ’08

Arisan keluarga besar si mbah Kromoreso bulan oktober ini berbarengan dengan acara Halal bi halal yang insyaallah di adakan di Sarangan tepatnya di hotel Handini, hari sabtu pukul 19. 30 wib tgl 25 Oktober 2008, Karena sifatnya yg tidak hanya arisan murni di himbau untuk seluruh anggta besar si Mbah Kromoreso untuk bisa menghadiri acara halal bi halal tersebut supaya dapat kumpul bersama keluarga. Panitia juga mempersiapkan penginapan untuk seluruh anggota keluarga besar si mbah Kromoreso secara gratis yang dananya diambilkan dari kas Arisan. untuk susunan acara dan pembagian kamar hotel sbb :

Susunan Acara kegiatan Halal bi halal Keluarga besar

Si Mbah kromoreso di Sarangan

  1. Seluruh anggota Kumpul di Masjid Al – Mustofa Sabtu, tgl. 25 Oktober 2008 Pukul 14.00 WIB ( Jam 2 Siang ), Berangkat pkl. 14.30 WIB dari Al – Mustofa dgn kendaraan masing – masing
  2. Sampai di Sarangan menuju Hotel“ HANDINI “ ( Jl. Raya Telaga Sarangan ) dengan pembagian kamar Sbb :

*** Kamar Dekat Aula ( ada 4 Kamar )

  1. Kamar No. 102 : Kel. Bpk. Eko, Bpk. Tanto, Bu Sri Utami
  2. Kamar No. 103 : Kel. Bpk. Sutrisno, P. Gimar ( Bayar Sendiri )
  3. Kamar No. 104 : Kel. Bpk. Alim, P. Andri
  4. Kamar No. 105 : Kel. Bpk. Kardi, Kel.P. Tukiman

**** Kamar Lantai Satu ( Vila B = 2 Kamar )

  1. Kamar No. 201 : Kel. Bpk. Khalis, Bu Hj. Ismangil
  2. Kamar No. 202 : Kel. Bpk. Suprianto ( Ibu Heni )

**** Kamar Lantai Satu ( 5 Kamar )

  1. Kamar No. 203 : Kel. Bpk.H. Kusdi, kel P. Ma’aris
  2. Kamar No. 204 : Kel P. Tohari ( Bayar sendiri )
  3. Kamar No. 205 : Kel. P. Samsudin ( Bayar sendiri )
  4. Kamar No. 206 : Kel. Bpk. Sulis, kel. Bpk. Totok
  5. Kamar No. 207 : Kel. Babadan

**** Kamar Atas Villa ( 3 Kamar )

  1. Kamar 301 : Kel.Hj. Rusmulyadi, Kel Emy
  2. Kamar 302 : Kel. Bpk Mono, Kel P. Aris P
  3. Kamar 303 : Kel. Bpk Udin, P. Ipung

**** Kamar Atas ( 5 Kamar )

  1. Kamar 304 : Kel. Bpk. Supriadi, Kel. Bpk Harjo
  2. Kamar 305 : Kel. Bpk. Toro, Bpk. Haryono
  3. Kamar 306 : Kel. Bpk Tarmaji, Bpk. Tomo
  4. Kamar 307 : Kel.Supriono metesih ( bayar sendiri )
  5. Kamar 308 : Kel. B. Saeran, B. Tatik
  1. Bila pembagian kamar kurang berkenan bisa pesan kamar

dengan hrg +- rp. 70. 000,- Sampai rp. 150.000,-pesan

secepatnya

Yang Tersisa dari ” Karbala “

Yang Tersisa Dari Karbala
Ada cerita menarik dari Karbala yang sengaja dirahasiakan oleh syi’ah, mau tahu? baca selengkapnya…
Ada bagian penting yang sering tertinggal dari sejarah Imam Husein, nampaknya bagian yang penting ini sangat jarang
sekali dibahas, sehingga pembaca yang ditakdirkan melewatkan pandangannya pada tulisan kali ini sangat beruntung,
karena menemukan pembahasan yang hampir belum pernah dibahas. Kali ini pembaca akan menikmati uraian tentang
anak-anak Imam Husein. Sebagaimana kita ketahui bersama, Imam Husein adalah seorang cucu Nabi, manusia yang
dicintai oleh Nabi sebagaimana kita mencintai cucunya. Bahkan konon seorang kakek lebih mencintai cucunya dari ayah
si cucu yang merupakan anaknya sendiri. Kecintaan nabi kepada Imam Husein begitu besar,begitu juga kepada
kakaknya yaitu Imam Hasan. Kita sebagai orang beriman yang mencintai Nabi wajib mencintai mereka yang dicintai
Nabi, termasuk cucundanya yang satu ini, sebagai bukti kecintaan kita kepada Kakeknya. Namun kecintaan kita kepada
sang Kakek haruslah lebih besar. Waktu kemudian berlalu sehingga Muawiyah Ra mangkat dan mengangkat Yazid
sebagai khalifah. Imam Husein yang enggan berbaiat kepada Yazid segera melarikan diri ke mekkah. Sesampai di
mekkah penduduk kota Kufah mengirimkan surat yang jumlahnya mencapai 12000 pucuk surat, yang isinya meminta
sang Imam untuk berangkat ke Kufah, di mana penduduknya sudah bersiap sedia untuk membaiat Imam Husein
sebagai khalifah. Di antara isi surat itu adalah memberitahu sang Imam bahwa di Kufah terdapat 100000 pasukan yang
siap berdiri di belakangnya untuk melawan Bani Umayyah (Lihat kitab Faji’atu Thaff hal 6, karangan Muhammad Kazhim
Al Qazweini) Membaca surat itu, sang Imam yakin akan kesiapan 100000 penduduk kufah yang telah siap dengan
pedang terhunus untuk melawan dan “kezhaliman bani Umayah”, Imam Husein akhirnya berangkat menuju kufah
bersama keluarganya. Namun kali ini imam tertipu. Sebelum sampai ke kota Kufah rombongan beliau dicegat oleh
tentara suruhan Ibnu Ziyad yang dipimpin oleh Umar bin Saad. Ketika rombongan sang Imam dicegat, kita tidak
mendengar 100000 pasukan yang konon siap membela Imam Husein itu ikut membela dan berperang melawan
musuhnya, kita tidak tahu kemana perginya mereka, begitu juga 12000 orang yang menuliskan surat ketika sang Imam
berada di mekkah. Jika 100000 orang yang mengaku pembela Imam itu ikut berada di padang Karbala, pasti “tentara
bani umayah” dapat dengan mudah dikalahkan. Mereka yang memanggil sang Imam begitu saja lari dari
tanggungjawab. Mereka tega membiarkan cucu sang Nabi terakhir dijadikan bulan-bulanan, mereka tega darah suci
keluarga nabi tumpah akibat larinya mereka dari tanggungjawab. Di dunia mereka bisa lari, namun di akhreat kelak tidak.
Sang Imam beserta rombongannya dibiarkan begitu saja menjadi korban pengkhianatan mereka yang mengaku sebagai
pengikut dan pembelanya. Rupanya inilah karakter mereka yang mengaku-aku dan sok menjadi pembela ahlulbait sejak
zaman para imam. Akhirnya sang Imam pun Syahid menjadi korban pengkhianatan mereka yang mengaku menjadi
pembelanya. Sang Imam Syahid beserta para keluarganya, di antaranya adalah : saudara sang Imam, putra Ali bin Abi
Thalib : Abubakar, Umar, Utsman. Bisa dilihat di kitab Ma’alimul Madrasatain karangan Murtadha Al Askari, jilid 3 hal
127. juga dalam kitab Al Irsyad karangan Muhammad bin Nukman Al Mufid hal. 197, I’lamul Wara karangan Thabrasi hal
112, juga kitab Kasyful Ghummah karangan Al Arbali jilid 1 hal 440. ini adalah sebagian referensi saja, yang lainnya
sengaja tidak kami sebutkan karena terlalu banyak. Sementara putra Imam Husein di antaranya : Abubakar bin Husain
dan Umar. Sampai di sini mungkin pembaca belum tersadar akan sebuah fenomena yang menarik. Kita lihat di sini
Imam Ali dan Imam Husein menamakan anaknya dengan nama para perampas haknya. Kita ketahui bahwa syiah
meyakini bahwa khilafah bagi Ali telah ternashkan dari ketentuan Allah dan RasulNya, sedangkan mereka yang tidak
mengakui adanya nash dianggap merasa lebih pandai dari Nabi. Dalam sejarah diyakini oleh syiah bahwa Abubakar
telah merampas hak yang semestinya menjadi milik Ali. Di antara bentuk protes Ali adalah khotbah syaqsyaqiyyah yang
tercantum dalam sebuah literatur penting syiah yaitu kitab Nahjul Balaghah. Namun yang aneh di sini adalah Ali yang
memberi nama anaknya dengan nama si perampas hak yang sudah tentu bagi syi’ah adalah dibenci Allah. Begitu juga
menamai anaknya dengan nama Umar, sang penakluk yang telah mengubur kerajaan persia untuk selamanya, dan
orang yang konon memukul bunda Fatimah hingga keguguran. Sering kita dengar bahwa Umar telah memukul Fatimah,
perempuan suci putri Nabi dan istri Ali hingga janin yang dikandungnya gugur, sungguh nekad orang yang berani
memukul putri Nabi. Namun dalam sejarah tidak disebutkan pembelaan Ali terhadap istrinya yang dipukul, malah
memberi nama anaknya dengan nama orang yang memukul putri Nabi yang sekaligus adalah istrinya. Sementara di sisi
lain kita tidak pernah menemukan bahwa Ali memberi nama anaknya dengan nama ayahnya yang “tercinta” yaitu Abu
Thalib. Begitu juga para imam ahlulbait tidak pernah tercantum bahwa mereka memberi nama anak mereka dengan
nama Abu Thalib. Apakah para imam ahlulbait lebih mencintai Abubakar dibanding cinta mereka pada Abu Thalib, kakek
mereka sendiri? Ternyata fakta berbicara demikian. Mengapa tidak ada seorang imam maksum –terbebas dari
kesalahan dan dosa- yang memberi nama anaknya dengan nama Abu Thalib? Jika ada yang mengatakan bahwa para
Imam Ahlulbait memberi nama anak mereka dengan nama-nama musuh karena basa basi, apakah para imam begitu
penakut sehingga harus berbasa basi dalam hal nama anak? Ataukah para imam begitu hina mau dipaksa orang lain
untuk memberi nama anaknya sendiri?
Hakekat.com: Hakekat Tersembunyi Syiah Imamiyah
http://hakekat.com Menggunakan Joomla! Generated: 24 March, 2008, 05:43

Kisah Cucu Rosulullah ” Imam Husain “

Kisah Karbala: Hujjah Terakhir Imam Husain as
Sunday, 20 January 2008
Setelah para pemuda dan para pengikutnya sudah terbunuh, Imam Husain as akhirnya mempersiapkan diri untuk
mengorbankan jiwa dan raganya. Demi penuntasan hujjah untuk terakhir kalinya, beliau berkali-kali meneriakkan
pertanyaan:
“Adakah seseorang yang akan melindungi kehormatan Rasulullah dari bencana ini?”
“Adakah orang bertauhid yang takut kepada Allah berkenaan dengan kami?”
“Adakah orang yang akan menolong permohonan kami demi keridhaan Allah?”[1]
Teriakan Imam Husain as ini mengundang jerit tangis kaum wanita yang masih harus beliau lindungi.
Beliau berteriak lagi:
“Adakah orang yang menyisakan rasa belas kasih? Adakah seorang penolong?”
Ali Zainal Abidin Assajjad, putera beliau satu-satunya yang sedang sakit keras dan tak berdaya untuk maju ke medan
laga berusaha bangkit dari pembaringannya dan berteriak: “Aku siap. Aku akan mengorbankan jiwa.” Dengan tubuhnya
yang lemas Ali Assajjad itu berusaha meraih pedang, namun lempengan besi tajam itu masih sangat berat untuk
tubuhnya yang nyaris tenaga itu. Pemuda ini lantas meraih tombak, satu-satunya senjata yang baginya justru lebih
menyerupai untuk menyanggah tubuhnya yang lunglai itu. Dengan sisa-sisa tenaga dia mencoba beranjak menuju
gerombolan musuh. Namun Imam Husain as tidak membiarnya berperang dalam kondisi seperti itu. Beliau
memerintahkan Ummu Kaltsum untuk mencegahnya, namun Assajjad menolak. “Biarkan aku yang akan menolongnya. ”
Pinta Assajjad.
Imam Husain as akhirnya turun tangan sendiri untuk mencegah dan membawanya kembali ke pembaringan lalu berkata:
“Tenanglah puteraku. Tetaplah kamu di sini. Biarkan aku sendiri yang akan menghadapi pedang, sedangkan kamu
cukuplah menanti belenggu. Puteraku, kamu harus kembali ke kampung halaman di Madinah. Sampaikan salamku untuk
pusara kakekku, ibuku, dan saudaraku. Sampaikan salamku kepada saudarimu, Fatimah. Sampaikan salamku kepada
para pengikut kita dan katakan kepada mereka: ayahku berkata; ‘Aku berharap kepada kalian untuk mengingat bibirku
yang kering kehausan jika kalian hendak meneguk air, dan menangislah kalian dan jangan kalian lupakan keterasingan
dan syahadahku saat kalian bicara tentang keterasingan seorang syahid.”
Salam atasmu, wahai Abu Abdillah AlHusain. Salam kami, para pengikutmu, atas engkau yang telah menumpah darah
sucimu di jalan Allah.
Di saat-saat terakhir itu, Imam Husain as mendatangi tenda-tenda satu persatu. Beliau panggil satu persatu anak-anak
beliau. Beliau meminta mereka untuk tabah dan sabar. “Hai para pelipur hatiku sekalian,” Tutur Imam Husain as penuh
harap, “Allah tidak akan berpisah dengan kalian di dunia dan akhirat. Ketahuilah dunia ini tidaklah abadi. Akhiratlah
tempat pesinggahan yang abadi.” Imam Husain as kemudian menumpahkan segala rahasia kepemimpinan (imamah)
kepada putera yang kelak mewarisi kepemimpinannya, Ali Zainal Abidin Assajjad as.
Imam Husain as antara lain berkata:
“Pusaka-pusaka para nabi, washi, dan kitab suci aku serahkan kepada Ummu Salamah, dan semuanya akan diserahkan
(kepadamu) sepulangmu dari Karbala.”
Imam lalu mendekati adiknya, Zainab AlKubra as dan meminta supaya diambilkan gamisnya yang sudah lama dan
usang. Dengan wajahnya yang dipenuhi sketsa penderitaan dan duka cita itu, Hazrat Zainab mencarikannya kemudian
menyerahkannya kepada Imam. Beliau mengenakannya setelah sebagian beliau sobek kemudian diikatkan kuat-kuat
sebagai tali yang mengikat gamis itu dengan tubuhnya agar tak mudah lepas atau dibuka oleh orang lain. Gerakan Sang
Imam yang diiringi oleh ratapan dan tangisan anggota kerabat yang ada di sekitarnya, seiring dengan jerit tangis bayi
mungil Ali Asghar, putera beliau yang masih berusia enam bulan. Bayi itu menjerit-jerit menahan dahaga setelah sekian
lama tidak mendapatkan tetesan air susu dari ibunya yang juga sudah lama tercekik kehausan.
Tak tega mendengar tangisan itu, Imam meminta puteranya yang masih bayi itu supaya diberikan kepada beliau. Bayi itu
diserahkan kepada beliau oleh seorang wanita bernama Qandaqah. Beliau meraih bayi itu lalu menciuminya sambil
berucap: “Alangkah celakanya kaum ini sejak mereka dimusuhi oleh kakekmu.” Bayi bernama Ali Asghar itu beliau bawa
ke depan barisan pasukan musuh dan memperlihatkannya kepada mereka untuk menguji adakah mereka masih
menyisakan jiwa dan perasaan mereka sebagai manusia. Beliau berucap kepada Allah: “Ya Allah, hanya inilah yang
tertinggal dariku, dan jiwanyapun rela aku korbankan ddijalan-Mu”
Beliau lalu menatap ke wajah-wajah manusia durjana di depannya itu. Bayi berusia enam bulan beliau junjung sambil
berseru:
“Hai para pengikut keluarga Abu Sufyan, jika kalian menganggapku sebagai pendosa, lantas dosa apakah yang
diperbuat oleh bayi ini sehingga setetes airpun tidak kalian berikan untuknya yang sedang mengerang kehausan.”
Sungguh biadab, tak seorangpun diantara manusia iblis itu yang tersentuh oleh kata-kata beliau. Yang terjadi justru
keganasan yang tak mengenal sama sekali rasa kasih sayang dan norma insaniah. Seorang berhati srigala bernama
Harmalah bin Kahil Al-Asadi diam-diam mencantumkan pangkal anak panahnya ke tali busur lalu menariknya kuat-kuat.
Tanpa ada komando, benda yang ujungnya runcing melesat ke arah bayi Ali Asghar. Sepecahan detik kemudian bayi
malang itu menggelepar di atas telapak Imam Husain as yang tak menduga akan mendapat serangan sesadis itu
sehingga tak sempat berkelit atau melindunginya dengan cara apapun. Beliau tak dapat berbuat sesuatu hingga bayi itu
diam tak berkutik setelah anak panah itu menebus lehernya. Ali Akbar telah menemui ajalnya dalam kondisi yang
mengenaskan. Darah segar mengucur dari lehernya hingga menggenangi telapak tangan ayahnya. Dengan demikian,
lengkaplah penderitaan Imam Husain as.
Dengan hati yang tersayat-sayat, beliau melangkah kembali ke arah perkemahan. Beliau menggali lubang kecil untuk
tempat persemayaman jasad suci Ali Asghar. Dari langit beliau mendengar suara bergema: “Biarkanlah dia gugur, wahai Husain, sesungguhnya di surga sudah menanti orang yang akan menyusuinya.”[2]
Imam menghampiri perkemahannya untuk mengucapkan kalimat perpisahan terakhir. Dalam hal ini kepada puteranya
yang sedang sakit, Assajjad as, beliau bertutur:
“Puteraku, sampaikan salamku kepada para pengikutku. Katakanlah kepada mereka sesungguhnya ayahku telah gugur
seorang diri, maka ratapilah dia.”[3]
[1] Qiyam Salar-e Syahidaan hal.225
[2] Anwar Assyahadah hal.165
[3] Ma’aali Asshibthain juz 2 hal.22-23

« Older entries

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.