Kisah Karbala: Hujjah Terakhir Imam Husain as
Sunday, 20 January 2008
Setelah para pemuda dan para pengikutnya sudah terbunuh, Imam Husain as akhirnya mempersiapkan diri untuk
mengorbankan jiwa dan raganya. Demi penuntasan hujjah untuk terakhir kalinya, beliau berkali-kali meneriakkan
pertanyaan:
“Adakah seseorang yang akan melindungi kehormatan Rasulullah dari bencana ini?”
“Adakah orang bertauhid yang takut kepada Allah berkenaan dengan kami?”
“Adakah orang yang akan menolong permohonan kami demi keridhaan Allah?”[1]
Teriakan Imam Husain as ini mengundang jerit tangis kaum wanita yang masih harus beliau lindungi.
Beliau berteriak lagi:
“Adakah orang yang menyisakan rasa belas kasih? Adakah seorang penolong?”
Ali Zainal Abidin Assajjad, putera beliau satu-satunya yang sedang sakit keras dan tak berdaya untuk maju ke medan
laga berusaha bangkit dari pembaringannya dan berteriak: “Aku siap. Aku akan mengorbankan jiwa.” Dengan tubuhnya
yang lemas Ali Assajjad itu berusaha meraih pedang, namun lempengan besi tajam itu masih sangat berat untuk
tubuhnya yang nyaris tenaga itu. Pemuda ini lantas meraih tombak, satu-satunya senjata yang baginya justru lebih
menyerupai untuk menyanggah tubuhnya yang lunglai itu. Dengan sisa-sisa tenaga dia mencoba beranjak menuju
gerombolan musuh. Namun Imam Husain as tidak membiarnya berperang dalam kondisi seperti itu. Beliau
memerintahkan Ummu Kaltsum untuk mencegahnya, namun Assajjad menolak. “Biarkan aku yang akan menolongnya. “
Pinta Assajjad.
Imam Husain as akhirnya turun tangan sendiri untuk mencegah dan membawanya kembali ke pembaringan lalu berkata:
“Tenanglah puteraku. Tetaplah kamu di sini. Biarkan aku sendiri yang akan menghadapi pedang, sedangkan kamu
cukuplah menanti belenggu. Puteraku, kamu harus kembali ke kampung halaman di Madinah. Sampaikan salamku untuk
pusara kakekku, ibuku, dan saudaraku. Sampaikan salamku kepada saudarimu, Fatimah. Sampaikan salamku kepada
para pengikut kita dan katakan kepada mereka: ayahku berkata; ‘Aku berharap kepada kalian untuk mengingat bibirku
yang kering kehausan jika kalian hendak meneguk air, dan menangislah kalian dan jangan kalian lupakan keterasingan
dan syahadahku saat kalian bicara tentang keterasingan seorang syahid.”
Salam atasmu, wahai Abu Abdillah AlHusain. Salam kami, para pengikutmu, atas engkau yang telah menumpah darah
sucimu di jalan Allah.
Di saat-saat terakhir itu, Imam Husain as mendatangi tenda-tenda satu persatu. Beliau panggil satu persatu anak-anak
beliau. Beliau meminta mereka untuk tabah dan sabar. “Hai para pelipur hatiku sekalian,” Tutur Imam Husain as penuh
harap, “Allah tidak akan berpisah dengan kalian di dunia dan akhirat. Ketahuilah dunia ini tidaklah abadi. Akhiratlah
tempat pesinggahan yang abadi.” Imam Husain as kemudian menumpahkan segala rahasia kepemimpinan (imamah)
kepada putera yang kelak mewarisi kepemimpinannya, Ali Zainal Abidin Assajjad as.
Imam Husain as antara lain berkata:
“Pusaka-pusaka para nabi, washi, dan kitab suci aku serahkan kepada Ummu Salamah, dan semuanya akan diserahkan
(kepadamu) sepulangmu dari Karbala.”
Imam lalu mendekati adiknya, Zainab AlKubra as dan meminta supaya diambilkan gamisnya yang sudah lama dan
usang. Dengan wajahnya yang dipenuhi sketsa penderitaan dan duka cita itu, Hazrat Zainab mencarikannya kemudian
menyerahkannya kepada Imam. Beliau mengenakannya setelah sebagian beliau sobek kemudian diikatkan kuat-kuat
sebagai tali yang mengikat gamis itu dengan tubuhnya agar tak mudah lepas atau dibuka oleh orang lain. Gerakan Sang
Imam yang diiringi oleh ratapan dan tangisan anggota kerabat yang ada di sekitarnya, seiring dengan jerit tangis bayi
mungil Ali Asghar, putera beliau yang masih berusia enam bulan. Bayi itu menjerit-jerit menahan dahaga setelah sekian
lama tidak mendapatkan tetesan air susu dari ibunya yang juga sudah lama tercekik kehausan.
Tak tega mendengar tangisan itu, Imam meminta puteranya yang masih bayi itu supaya diberikan kepada beliau. Bayi itu
diserahkan kepada beliau oleh seorang wanita bernama Qandaqah. Beliau meraih bayi itu lalu menciuminya sambil
berucap: “Alangkah celakanya kaum ini sejak mereka dimusuhi oleh kakekmu.” Bayi bernama Ali Asghar itu beliau bawa
ke depan barisan pasukan musuh dan memperlihatkannya kepada mereka untuk menguji adakah mereka masih
menyisakan jiwa dan perasaan mereka sebagai manusia. Beliau berucap kepada Allah: “Ya Allah, hanya inilah yang
tertinggal dariku, dan jiwanyapun rela aku korbankan ddijalan-Mu”
Beliau lalu menatap ke wajah-wajah manusia durjana di depannya itu. Bayi berusia enam bulan beliau junjung sambil
berseru:
“Hai para pengikut keluarga Abu Sufyan, jika kalian menganggapku sebagai pendosa, lantas dosa apakah yang
diperbuat oleh bayi ini sehingga setetes airpun tidak kalian berikan untuknya yang sedang mengerang kehausan.”
Sungguh biadab, tak seorangpun diantara manusia iblis itu yang tersentuh oleh kata-kata beliau. Yang terjadi justru
keganasan yang tak mengenal sama sekali rasa kasih sayang dan norma insaniah. Seorang berhati srigala bernama
Harmalah bin Kahil Al-Asadi diam-diam mencantumkan pangkal anak panahnya ke tali busur lalu menariknya kuat-kuat.
Tanpa ada komando, benda yang ujungnya runcing melesat ke arah bayi Ali Asghar. Sepecahan detik kemudian bayi
malang itu menggelepar di atas telapak Imam Husain as yang tak menduga akan mendapat serangan sesadis itu
sehingga tak sempat berkelit atau melindunginya dengan cara apapun. Beliau tak dapat berbuat sesuatu hingga bayi itu
diam tak berkutik setelah anak panah itu menebus lehernya. Ali Akbar telah menemui ajalnya dalam kondisi yang
mengenaskan. Darah segar mengucur dari lehernya hingga menggenangi telapak tangan ayahnya. Dengan demikian,
lengkaplah penderitaan Imam Husain as.
Dengan hati yang tersayat-sayat, beliau melangkah kembali ke arah perkemahan. Beliau menggali lubang kecil untuk
tempat persemayaman jasad suci Ali Asghar. Dari langit beliau mendengar suara bergema: “Biarkanlah dia gugur, wahai Husain, sesungguhnya di surga sudah menanti orang yang akan menyusuinya.”[2]
Imam menghampiri perkemahannya untuk mengucapkan kalimat perpisahan terakhir. Dalam hal ini kepada puteranya
yang sedang sakit, Assajjad as, beliau bertutur:
“Puteraku, sampaikan salamku kepada para pengikutku. Katakanlah kepada mereka sesungguhnya ayahku telah gugur
seorang diri, maka ratapilah dia.”[3]
[1] Qiyam Salar-e Syahidaan hal.225
[2] Anwar Assyahadah hal.165
[3] Ma’aali Asshibthain juz 2 hal.22-23